Home Renungan Singkat Buku Harian Wanita

Buku Harian Wanita

83
0
buku harian wanita
Menulis Buku Harian
buku harian wanita

“Dirumah saja” membuat banyak sekali waktu luang yang bisa aku pergunakan, kuputuskan kali ini, aku akan membuat buku harian, ya Buku Harian Wanita, karena banyak hal silih berganti, kualami suka duka dalam hidupku, yang harus aku bagikan pada banyak wanita, betapa heran dan dahsyatnya Tuhan dalam hidupku.

Masa Kecilku

Aku terlahir dalam sebuah keluarga pembuat kue, nenek dari ayahku memiliki sebuah toko Roti kecil, dan nenek dari Ibuku pembuat kue-kue basah yang dijual, dititipkan diberbagai toko kue.

Dari kecil aku sudah biasa melihat para pegawai membuat kue-kue, dan sejak umur 10 tahun aku sudah bisa membuat puding dan aku titipkan di toko Nenekku. Jika laku, aku mendapatkan uang, jika tidak laku, aku makan pudingnya.

Umur 12 tahun, Ayahku sudah mulai sering sakit-sakitan, begitu juga Ibuku, sehingga aku anak yang paling besar seringkali harus mengurus pekerjaan rumah tangga, dari beberes rumah, memasak didapur, mengurus adik, dan tetap harus sekolah tentunya.

Ketika aku duduk dibangku SMA aku seringkali tidak memiliki uang jajan seperti teman-temanku yang lain, sehingga ketika jam istirahat berbunyi kadang aku tidak dapat pergi ke kantin sekolah untuk membeli makanan, tapi hal itu tidak membuat diriku menjadi minder, aku tetap memiliki banyak teman, bahkan di kelas 2 SMA aku terpilih menjadi Ketua Osis di sekolahku.

Bersyukur pada Tuhan, aku dicintai banyak teman dan para Guru.

Ketika aku masuk kelas 3 SMA, ayahku sudah mulai parah sakitnya, dia sering keluar masuk rumah sakit, biaya sekolahku mulai tersendat. Sementara teman-temanku sudah mulai ikut bimbingan belajar untuk dapat masuk universitas favoritnya, aku malah disibukan membantu orang tua dalam mencari nafkah.

Seringkali aku menjadi sales keliling toko-toko kue, untuk menitipkan roti buatan keluargaku. Disana aku menyadari aku tidak mampu berjualan, disaat-saat itu aku benar-benar harus bergantung pada Tuhan, berdoa padaNya, tersungkur di bawah kakiNya, dengan air mata aku meminta belas kasihanNya, dan memohon pertolongan dari padaNYa untuk membantu aku dalam berjualan.

Sekali lagi aku bersyukur pada Tuhan, kami tidak pernah kekurangan makanan, Tuhan memelihara kehidupan kami. Seperti burung di udara Tuhan pelihara, terlebih kehidupan kami, anak-anakNya yang berharap kepadaNya. Dia selalu setia, Dia tidak pernah mengecewakan kami, setiap kami memerlukan uang, Tuhan selalu sediakan tepat pada waktunya. Tuhan itu ada, Sungguh Tuhan itu pemelihara dan penolong kehidupanku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here